PEMAHAMAN TENTANG SENI UKIR INDONESIA

Khusus untuk seni ukir nusantara yang berbahan dasar kayu, semakin beragam karena didukung oleh alam nusantara yang memiliki hutan tropis sehingga menghasilkan kayu yang bisa dipakai sebagai bahan dasar untuk mengukir.
Berbeda dengan seni ukir modern, seni ukir nusantara yang tradisional lahir tidak saja sebagai karya seni dan tujuan untuk berkesenian, melainkan sangat terikat erat dengan berbagai persoalan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tradisional. Demikian pula inspirasi bentuk ukirannya yang terikat kuat kepada alam, memberi keunikan tersendiri yang tak sembarang bisa ditemukan di dalam seni ukir modern. Seni ukir nusantara sebagai seni ukir tradisional, masing-masing daerah memiliki ciri khas sendiri-sendiri sesuai dengan alam dan lingkungan tempat mereka tumbuh dan berkembang. Dari kenyataan ini maka seni ukir nusantara semakin kaya ragam dan rupanya.
Dilihat dari jenisnya, ukiran dibagi menjadi: ukiran tembus, ukiran rendah, ukiran tinggi, dan ukiran utuh.
Fungsi Seni Ukir
Fungsi seni ukir termasuk di dalam seni ukir nusantara, di antaranya sebagai berikut :
Di dalam berbagai perabot, alat perang, alat atau perkakas bertani dan sebagainya, banyak yang menggunakan seni ukir yang berfungsi hiasan. 2. Fungsi magis, adalah ukiran yang mengandung simbol-simbol tertentu dan diyakini sebagai sesuatu yang magis atau memiliki kekuatan, dikaitkan dengan kepercayaan dan kepentingan spiritual. Pada seni ukir tradisional banyak sekali seni ukir yang berfungsi magis ini. Demikian pula di dalam masyarakat suku Batak, dengan mudah ditemukan ukiran yang berfungsi magis ini, misalnya di dalam rumah adat atau tombak, terdapat simbol-simbol tertentu dengan warna putih dan hitam yang dominan, yang dianggap memiliki kekuatan gaib tersendiri.
3. Fungsi simbolik. Selain sebagai hiasan, ukiran mengandung suatu simbol yang berhubungan dengan spiritual. Ukiran fungsi simbolik ini hampir mirip dengan ukiran fungsi magis, yakni terkait dengan satu kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Misalnya tiang pada rumah.
Sebuah ukiran yang pada awalnya berfungsi sebagai ukiran magis misalnya, pada masyarakat modern sekarang bisa saja diterapkan pada wadah tissue misalnya, yang tentunya ragam hias pada ukiran tempat tissue tersebut sudah tidak memiliki fungsi simbolis atau fungsi magis lagi.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s